KOTAK PENCARIAN:

Minggu, 25 September 2011

iklan0
Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Hidramnion Di Rumah Sakit

iklan1
ABSTRAK

Menurut WHO angka kejadian hidramnion berkisar 1,1 – 2,8% dari seluruh kehamilan disebabkan oleh komplikasi pada kehamilan dan persalinan dan 8 – 18% dengan kelainan janin. Biggio dan kawan-kawan di University Of Alabama melaporkan insidensi kelebihan air ketuban 1% diantara lebih dari 36.000 kehamilan. Hidramnion adalah pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di Negara berkembang termasuk Indonesia. Cairan ketuban paling banyak dihasilkan oleh urinasi atau produksi air seni janin, si jabang bayi minum air ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air seni yang dikeluarkannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Ibu Hamil Dengan Hidramnion di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011. Populasi berjumlah 35 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik, pengolahan data secara editing dan tabulating, kemudian menganalisa data dengan melihat persentase yang terkumpul dan dijadikan tabel kemudian membahas hasil penelitian dengan teori yang ada. hasil penelitian berdasarkan mayoritas pada umur 35-39 tahun sebanyak 13 orang (37,14%) dan minoritas pada umur 40-44 tahun sebanyak 1 orang (2,85%), berdasarkan paritas mayoritas multipara sebanyak 24 orang (68,57%) dan minoritas Grandmultipara sebanyak 2 orang (5,71%) berdasarkan usia kehamilan mayoritas 28 – 31 minggu sebanyak 18 orang (51,4%) dan minoritas 32-35 minggu sebanyak 2 orang (5,1%), berdasarkan faktor penyebab ibu mayoritas kehamilan Ganda sebanyak 13 orang (37,42%) dan minoritas penyebab Rhesus / inkompatibilitas sebanyak 6 orang (17,2%) dari hasil penelitian diharapkan kepada petugas kesehatan dapat meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil, sehingga dapat memperkecil kejadian hidramnion.
Kata Kunci : Hidramnion
Daftar Pustaka : 14 referensi (2001-2011)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hidramnion pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di Negara berkembang termasuk Indonesia. Cairan ketuban paling banyak dihasilkan oleh proses urinasi atau produksi air seni janin. Si jabang bayi minum air ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air seni yang dihasilkannya. Volume air ketuban tidak persis dari waktu ke waktu. Volume ini mengalami dari puncak di umur kehamilan 33 minggu, yakni sekitar 1 – 1,5 liter yang berangsur berkurang mendekati kehamilan cukup bulan (40 minggu) (Rachmuddin, 2006).
Menurut salah satu jurnal yang diterbitkan dalam Pubmed, insiden terjadinya hidramnion adalah 0,4% dan berkaitan dengan prematur, kehamilan kembar, diabetes dan kelainan pada janin. Berdasarkan penelitian, yang diterbitkan oleh British Medical Journal hidramnion akut dapat diatasi dengan cara parasintensis uteri (rahim) (Manuaba, 2008).
Menurut WHO angka kejadian hidramnion berkisar 1,1 – 2,8% dari seluruh kehamilan disebabkan oleh komplikasi pada kehamilan dan persalinan dan 8 – 18% dengan kelainan janin. Biggio dan kawan-kawan di University Of Alabama melaporkan insidensi kelebihan air ketuban 1% diantara lebih dari 36.000 kehamilan. Sampai sekarang penyebab hidramnion masih belum jelas, banyak kasus hidramnion berhubungan dengan kelainan janin (Rachmuddin, 2006).
Dalam penelitian oleh Hill dan kawan-kawan dari Maya Clinic lebih dari 9000 persen pasien prenatal menjalani evaluasi USG rutin menjelang awal trimester III insidensi hidramnion yaitu 0,1% dari seluruh kehamilan dengan kelebihan air ketuban ringan atau kantung yang berkurang 8-11 cm dan 80% cairan yang berlebihan hidramnion sedang 12-15 cm terdapat pada 15% sedangkan yang berat 16 cm terdapat 5% atau yang sering dijumpai hidramnion pada kongential animaly sebesar 17,7-29%. (Dr. Hilmansyah).
Di Bandung ditemukan hampir 65% dinyatakan hidramnion. Damata dan koleganya melaporkan bahwa 105 wanita yang diteliti mengalami kelebihan air ketuban, sedangkan di Rumah Sakit Martha Friska Medan ditemukan frekuensi 20% dan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 4-6% (Rachmuddin, 2006).
Hidramnion juga dapat berkembang mendadak bila terjadi peningkatan air ketuban dalam waktu 14 hari. Hidramnion juga menimbulkan gejala pada ibu hamil yang meliputi dispnea (sesak napas), kaki tungkai bawah membengkak dan perut membesar dan tampak mengilat dan ini terjadi dalam waktu yang sedikit / yang tidak lama dan diperlukan tindakan untuk meringankan ibu hamil. (Manuaba, 2008).
Oleh karena angka kejadian hidramnion ibu dan janin yang cukup tinggi maka ibu hamil dengan kelebihan air ketuban lebih sering dipantau sehinga dapat diambil sikap untuk melakukan obeservasi dan penanganan yang tepat.
Hasil survey awal tanggal 18-02-2010 yang dilakukan di Rekam Medik Rumah Sakit ibu yang mengalami kelebihan air ketuban sebanyak 35 orang yakni tahun 2009 sebanyak 10 orang, tahun 2008 sebanyak 11 orang, tahun 2011 sebanyak 14 orang.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Karakteristik Ibu Hamil dengan Hidramnion di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011”.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam Penelitian ini adalah "Bagaimanakah Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Hidramnion di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Karakteristik ibu hamil dengan hidramnion di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi ibu hamil dengan hidramnion berdasarkan umur di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.
2. Untuk mengetahui distribusi ibu hamil dengan hidramnion berdasarkan paritas di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.
3. Untuk mengetahui distribusi ibu hamil dengan hidramnion berdasarkan usia kehamilan di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.
4. Untuk mengetahui distribusi ibu hamil dengan hidramnion berdasarkan faktor penyebab di Rumah Sakit Periode 2009 – 2011.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Pihak Rumah Sakit Haji
Bagi pihak Rumah Sakit dapat menjadi bahan masukan dan informasi dalam meningkatkan pelayanan berdasarkan kebidanan khususnya yang berhubungan dengan kasus hidramnion.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan perbandingan dengan penelitian selanjutnya dan sebagai bahan informasi dan bahan bacaan di perpustakaan Akademi Harapan Mama tentang kelebihan air ketuban.
1.4.3 Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis khususnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan hidramnion.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.6

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Hidramnion Di Rumah Sakit
iklan2

iklan0
Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Solusio Plasenta di Rumah Sakit

iklan1
ABSTRAK
Perdarahan merupakan peyebab kematian ibu terbesar dalam kehidupan, perdarahan tersebut dapat terjadi pada masa hamil, maupun setelah persalinan, salah satunya penyebeb kematian ibu. Solusio plasenta adalah keadaan dimana plasenta letaknya normal terlepas dari implantasi, sebelum janin lahir, masalah yang diambil dalam penelitian ini bagaimana karakteristik ibu bersalin dengan solosio plasenta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan solosio plasenta di RSUP H. Adam Malik Periode 2007 sampai dengan 2011 berdasarkan umur dan paritas. Adapun jenis penelitian ini bersifat deskriptif, objek penelitian yang diambil semua ibu yang mengalami solosio plasenta yang berjumlah 30 orang di RSUP H. Adam Malik , data diambil dari catatan medik, pengolahan data melalui editing, coding, tebulating, dan analisa data dengan melihat persentase data yang telah terkumpul disajikan dalam tabel.
Dari hasil penelitian di RSUP H.Adam Malik berdasarkan umur mayoritas 30 – 40 tahun sebanyak 12 orang ( 40%) dan minoritas pada umur <20 tahun sebanyak 3 orang ( 10%), berdasarkan paritas yang mayoritas 0-1 sebanyak 17 orang ( 56,6%) dan minoritas >4 sebanyak 1 orang (3,3%) hasil penelitian ini dapat dinyatakan bahwa umur dan pritas merupakan karakteristik ibu bersalin dengan solosio plasenta.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah solosio plasenta umumnya terjadi pada umur 30-40 tahun dan dengan paritas 0 -1, khususnya bidan praktek swasta dan RSU Adam Malik . Agar dapat meningkatkan pelayanan dalam mendeteksi sehingga dapat berperan aktif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu.

Kata Kunci : Ibu Bersalin dengan solosio Plasenta
Daftar Pustaka : 12 Buku, Internet 2 Buah ( 1996 – 2008)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Solosio Plasenta suatu keadaan dimana Plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlengkapannya sebelum janin lahir, biasanya terhitung sejak hamil 28 minggu.
( Mochtar.R.1998)
Solosio plasenta yang secara klinis jelas terdapat pada 0,5 – 1 % yang dari semua kehamilan. Solosio Plasenta sering disertai oleh keadaan yang menyebabkan insufisiensi Uteroplesenter Kronik seperti hipertensi, preeklamsi, perdarahan yang hebat dan jarak waktu antara terjadinya solosio plasenta sampai pengosongan uterus sehingga resiko kematian ibu mencapai 0,3 - 3% dan kematian janin 50 - 80%.
(Media Asculapius,2000)
Perdarahan pada silosio plasenta sebenarnya lebih berbahaya dari pada plasenta pravia, oleh karena itu pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada atau tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak. Pemandangan yang menipu inilah sebanarnya yang membuat solosio plaseta lebih berbahaya karena dalam keadaan yang demikian sering kali perkiraan jumlah darah yang telah keluar sukar diperhitungkan pada hal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.
Perdarahan antepartum menurut WHO adalah perdarahan pervaginaan setelah 29 minggu kehamilan atau lebih insidensinya + 3% dan salah satu penyebabnya adalah solosio Plasenta.
( Admin, 2007)
Di Amerika Serikat dilaporkan dari semua angka kematian janin yang terjadi pada tahun 2007. Berkisar antara 50% - 80% yang mengalami solosio plasenta.
( Yayan Akhyar Israr,2007)
Di Indonesi sebagai Negara berkembang penyebab solosio plasenta tidak dikatehui dengan pasti tetapi pada kasus – kasus sehingga pada tahun 2008 berkisar kira - kira 2,1% yang mengalami solosio Plasenta.
Disumatra seperti di Pekan Baru di RSUD. Arifin Achmad, Solosio Plasenta merupakan 30% dari seluruh kejadian perdarahan antepartum.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ gambaran karakteristik ibu bersalin dengan Solosio Plasenta di RSU. 2007 – 2011”
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka rumusan masalah adalah gambaran karakteristik ibu bersalin dengan Solosio Plasenta di RSU 2007 – 2011.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran karakteristik Ibu bersalin dengan solosio Plasenta di RSU. Periode 2007 -2011
1.3.2 Tujuan Khusus
 Untuk mengetahui distribusi ibu bersalin dengan solosio plasenta berdasarkan umur di Rumah Sakit Umum Periode 2007 – 2011.
 Untuk mengetahui distribusi Ibu bersalin dengan solosio Plasenta berdasarkan paritas di Rumah Sakit Umum periode 2007 - 2011

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk:
 Memberikan gambaran mengenai kasus solosio Plasenta di Rumah Sakit Umum ................. Periode 2007 – 2011.
 Sumber informasi bagi praktisi kesehatan dan pemerintah agar lebih memperhatikan masalah solosio plasenta sebagai salah satu faktor resiko penyebab kematian ibu dan anak yang dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam pengolahan kasus – kasus solusio plasenta sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak.
 Untuk kematian masyarakat Ilmiah, sebagai data dasar bagi penelitian selanjutnya.





Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.5

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Solusio Plasenta di Rumah Sakit
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Karies Gigi Pada Anak

iklan1
ABSTRAK
Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam satu karbohidrat yang diragikan. Proses karies gigi ini ditandai dengan terjadinya demineraslisasi pada jaringan keras gigi diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Karies gigi pada anak kelas 4 SD yang dilaksanakan di SD Negeri 106178 desa Baru Kecamatan dimana yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak kelas 4 SD yang sekolah di SD Negeri 106178 Desa Baru Kecamatan yang berjumlah 35 orang, di mana keseluruhan populasi dijadikan sebagi sampel dalam penelitian ini. Penelitian ini berjenis deskristif yaitu untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang menyebabkan karies gigi. Data yang terkumpul dalam bentuk data primer yang didapatkan dengan membangikan kuisioner pada seluruh siswa yang menjadi sample dalam penelitian ini dimana dalam satu lembar kuisioner terdiri data 20 pertanyaan. Adapun hasil dari penelitian ini adalah diketahui bahwa faktor dominan yang menyebabkan terjadinya karies gigi pada anak adalah faktor makanan yaitu sebanyak 30 responden (85.7%), sedangkan faktor non dominan mayoritas disebabkan oleh bakteri sebanyak 8 responden (23%). Bagi anak-anak menggosok gigi sangat penting untuk mencegah terjadinya kerusakan pada gigi, serta mengurangi mengkonsumsi makanan-makanan yang manis dan bersifat lengket.
Kata Kunci : Faktor-faktor penyebab + terjadinya karies gigi pada anak.
Daftar Pustaka : 10 Buku (2004-2008)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masalah utama dalam rongga mulut adalah karies gigi. Di Indonesia, prevelansi karies gigi ada kecenderungan semakin tinggi. Pada masa ini tidak hanya banyaknya karies gigi yang perlu diperhatikan tetapi urutan penyebab kejadian karies gigi seperti faktor gigi, substrat, mikroorgnisme, dan faktor waktu.
Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang dirugikan. Proses karies gigi ditandai dengan terjadinya deminerausisi pada jaringn keras gigi, terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri. Sampai sekarang karies gigi masih merupakan masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara-negara berkembang.
Penelitian mengenai identifikasi resiko karies saat ini telah banyak dilakukan pada anak-anak usia sekolah dan remaja. Adanya riwayat karies diketahui sebagai indikator terbaik dalam penentuan perkembangan karies. Namun indikator tersebut tidak dapat mencapai target ketetapan sekitar 80%.
Berdasarkan survey litbankes, presentase angka kesakitan gigi menduduki peringkat ke-6 terbanyak Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2009). Di Indonesia prevelansi karies gigi tetap diperkirakan 60-80% dari jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan survey kesehatan gigi yang dilakukan oleh direktoral pada daerah kota anak umur 8 tahun mempunyai prevelansi karies 45,2%, rata-rata 0,84, anak umur 12 tahun sebesar 76,62% rata-rata 2,21 sedangkan anak umur 14 tahun mempunyai prevelansi kariesnya 73,2 dan rata-rata 2,69.
Adanya interaksi antara faktor penyebab karies, merupakan awal terjadinya lesi karies gigi. Hasil laporan penelitian-penelitian di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan adanya pervalensi yang cukup tinggi pada anak usia sekolah.
Berdasarkan hasil survey di atas, didapati anak yang mengalami karies gigi jumlahnya cukup tinggi, maka masalah ini perlu mendapatkan perhatian yang serius agar dapat diupayakan cara pencegahannya dan penanggulangannya.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, diketahui bahwa karies gigi banyak terjadi pada anak-anak usia sekolah dan remaja. Maka dari pernyataan itu, peneliti membuat perumusan masalah yaitu “Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Karies Gigi Pada Anak Di Sekolah Dasar”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya karies gigi pada anak.
1.3.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya karies gigi berdasarkan makanan yang dikonsumsi.
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya karies gigi berdasarkan bakteri.
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya karies gigi berdasarkan gigi dan air ludah.

1.4 Manfaat Penelitian
- Bagi instansi SD
Untuk menambah wawasan dan informasi bagi siswa-siswi terhadap faktor-faktor penyebab dan pencegah karies gigi.
- Bagi peneliti
• Untuk menambah pengetahuan peneliti terutama tentang penyebab dan pencegahan karies gigi.
• Data yang sudah ada dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya terutama tentang kesehatan gigi.
- Bagi institusi pendidikan
• Dapat dijadikan sebagai reverensi di perpustakaan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.4
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Karies Gigi Pada Anak
iklan2

iklan0
Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus di Rumah Sakit

iklan1
ABSTRAK
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit dimana tubuh penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darah. Pada tubuh yang sehat, panktreas melepas insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot – otot dan jaringan lain untuk memasok energi. Penelitian ini bersifat dskriptif yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko pada Diabetes Mellitus. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari – Mei 2011 di Rumah Sakit Jl. Kolonel Yos Soedarso, Pulau Brayan . Data yang dikumpulkan dari responden menggunakan kuesioner dengan jumlah pertanyaan 20 soal yang langsung dibagikan 30 responden yang terkena penyakit Diabetes Mellitus. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor risiko yang berdasakan usia sebanyak 14 responden (46,7%) dengan rata – rata usia responden berkisar 40 tahun keatas, hal ini terjadi semakin bertambahnya usia akan membuat seseorang itu mengalami penurunan fungsi tubuh, berdasarkan pekerjaan sebanyak 5 responden (16,7%) yaitu didapatkan rata-rata dalam sehariannya bekerja terlalu santai yang akhirnya akan beresiko aliran darah ke organ – organ termasuk pankreas berkurang, sehingga sel – sel pankreas akan menjadi kerusakan, berdasarkan obesitas sebanyak 3 responden (9,9%), hal ini dapat terjadi karena responden mengawali hidupnya dengan pola hidup yang salah seperti kurangnya gerak badan, malas berolah raga, dan banyak mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat, berdasarkan gaya hidup sebanyak 8 respoden (26,7%) yaitu didapatkan rata-rata responden menjalankan pola hidup yang salah, salah satu aspek yang paling menonjol yaitu : tingginya konsumsi makanan gaya barat yang serba instan dan cepat saji (Fast Food). Dan kebiasaan minim gerak atau gaya hidup santai. Dari hasil penelitian yang disimpulkan faktor risiko Diabetes Mellitus yang paling dominan yaitu berdasarkan usia, kemudian berdasarkan gaya hidup, dan paling minimum berdasarkan pekerjaan dan obesitas. Maka dari itu kepada penderita Diabetes Mellitus hendaknya mengatur pola diet yang seimbang, menghindari makanan yang serba instan yang tinggi akan lemak dan karbohidrat, jangan merokok, hindari minuman yang beralkohol, pengendalian makanan yang benar yaitu mengurangi lemak dan karbohidrat serta olahraga yang teratur minimal 3 – 5 kali (dalam seminggu). Dengan waktu 30 – 60 menit.
Kata Kunci : Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus
Daftar Pustaka : 14 Referensi (2005 – 2011)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak orang masih menganggap penyakit Diabetes Mellitus merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang timbul karena faktor keturunan. Pada hal, orang dapat mengidap Diabetes Mellitus, baiuk tua maupun muda.
Laporan statistik dari Internasional Diabetes Federation (IDF) menyebutkan, bahwa sekarang sudah ada sekitar 230 juta penderita Diabetes Mellitus. Angka ini terus bertambah hingga 3 persen atau sekitar 7 juta orang setiap tahunnya. Dengan demikian, jumlah penderita Diabetes Mellitus diperkirakan akan mencapai 350 juta pada tahun 2025 dan setengah dari angka tersebut berada di Asia terutama India, Cina, Pakistan dan Indonesia (Hans Tandra, 2008).
Menurut data badan kesehatan dunia (WHO) Indonesia menempati urutan ke empat dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap Diabetes Mellitus. (dr.Nabyl, 2009).
Pada tahun 2009 diperkirakan jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat secara teratur.
Survei Dinas Kesehatan Kota sejak September sampai dengan Oktober 2009 penyakit Diabetes Mellitus merupakan penyakit dengan penderita terbanyak dan menempati urutan pertama diatas Jantung Koroner. (www.Online, 2009)
Berdasarkan survei yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit pada tanggal 29 Januari 2011, tercatat pada tahun 2008 terdapat 217 orang penderita Diabetes Mellitus, sedangkan di akhir 2009 yang lalu terdapat 30 orang penderita penyakit Diabetes Mellitus.
Berdasarkan hal tersebut dengan berbagai kejadian dari penyakit Diabetes Mellitus, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang ” Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus di Rumah Sakit”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Tahun 2011

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Tahun 2011
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus berdasarkan usia
2. Untuk mengetahui Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus berdasarkan pekerjaan
3. Untuk mengetahui Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus berdasarkan tingkat obesitas
4. Untuk mengetahui Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus berdasarkan gaya hidup

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti sebagai penyelesaian tugas akhir program D-III Keperawatan
1.4.2 Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai masukan penanganan Diabetes Mellitus di Rumah Sakit
1.4.3 Bagi Institusi Kesehatan
Dapat dijadikan sebagai upaya menambah kelengkapan kepustakaan
1.4.4 Bagi Mahasiswa
Dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.




Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.3
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor Risiko Pada Diabetes Mellitus di Rumah Sakit
iklan2

iklan0
Efektivitas Penanganan Dalam Nyeri Dismenorea Non Farmakologis Pada Remaja Putri

iklan1
ABSTRAK

Dismenorea (nyeri haid) adalah suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita – wanita mengalami rasa tidak enak diperut bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual sehingga menyebabkan mereka pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Tidak ada angka pasti sehingga mengenai jumlah penderita dismenorea di Indonesia namun di Surabaya didapatkan angka 1,07% hingga 1,31%. Dari jumlah penderita Dismenorea yang datang bagian kebidanan. Cara menghilangkan atau menurunkan nyeri yaitu secara farmakologis misalnya obat –obatan analgesik dan secara non farmakologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Cara Yang Efektivitas Dalam Penanganan nyeri Dismenorea Non Farmakologis berdasarkan pemberian teknik nafas dalam dan pemberian terapi musik, serta membandingkan intensitas nyeri haid Dismenorea dengan menggunakan kedua teknik tersebut. Disemenorea dibagi atas dua bagian yaitu : Dismenorea primer dan dismenorea sekunder. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung kelapangan dengan jumlah populasi dari sampel sebanyak 24 responden. Hasil penelitian ini ditemukan berdasarkan teknik nafas dalam baik sebanyak 8 responden (67%), cukup sebanyak 4 responden (33%), sedangkan yang kurang tidak ada, kemudian berdasarkan terapi musik baik sebanyak 7 responden (58%), cukup sebanyak 5 responden (42%) dan kurang tidak ada. berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan bagi responden agar dapat lebih meningkatkan pengetahuan tentang teknik nafas dalam dan terapi musik dalam mengatasi nyeri haid.

Kata Kunci : Keefektivitas Penanganan Nyeri Dismenorea Non Farmakologis
Daftar Pustaka : 7 Referensi (2005 – 2009).

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dismenorea atau nyeri haid mungkin suatu gejala yang sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan, karena gangguan ini sifatnya subjektif. Berat atau intensitasnya sukar dinilai, walaupun frekuensi dismenorea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.
Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual, maka istilah dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau ciri hidupnya sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari.
Tidak ada angka pasti mengenai jumlah penderita dismenorea di Indonesia, namun di Surabaya didapatkan angka 1,07%hingga 1,31% dari jumlah penderita dismenorea yang dating bagian kebidanan (www.google.com).
Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri, baik secara farmakologis misalnya obat-obatan analgesik ataupun menghilangkan cara dengan intervensi keperawatan yang bersifat non farmakologis dan independen (www.google.com).
Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping yang seperti obat-obatan, karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis. Oleh karena itu, untuk mengatasi nyeri tingkat ringan atau sedang lebih baik menggunakan manajemen nyeri non farmakologis (www.google.com)
Salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri adalah pengalihan perhatian, dimana teknik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk melibatkan seluruh perhatian yang berarti yang digunakan yaitu teknik nafas dalam dan terapi musik. Musik dapat membuat menjadi rileks, sehingga hanya perlu menggunakan obat-obatan yang lebih sedikit mengingat pentingnya hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang efektivitasnya dalam penanganan nyeri (dismenorea) non farmakologis pada remaja putri.

1.2 Perumusan Masalah
Bagimana efektivitas dalam penanganan nyeri dismenorea non farmakologis pada remaja putri.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui cara yang efektivitas dalam penanganan nyeri dismenorea non farmakologis pada remaja putri.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui efektivitas pemberian teknik nafas dalam terhadap penurunan intensitas nyeri haid dismenorea pada remaja putri.
2. Untuk mengetahui efektivitas pemberian terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri hadi dismenorea pada remaja putri.
3. Membandingkan intensitas nyeri haid dimenorea menggunakan kedua teknik tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pembaca
Pembaca dapat mengaplikasikan teori teknik nafas dalam dan terapi musik pada klien yang menderita nyeri haid (dismenorea).
1.4.2 Bagi Instansi Pendidikan
- Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi baru khususnya mata kuliah maternitas.
- Memberikan masukan kepada kelompok usia remaja tentang cara menurunkan intensitas nyeri haid dismenorea yaitu dengan menggunakan teknik nafas dalam dan terapi musik serta membandingkan kedua teknik tersebut mana yang lebih efektif.
1.4.3 Bagi Peneliti
- Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis mengenai efektivitas dalam penanganan nyeri haid (dismenorea) non farmokolgis pada remaja putri.
- Sebagai pengalaman mengenal cara dan proses berpikir ilmiah, khususnya mengenal masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan.
- Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah didapatkan saat kuliah.
- Menimbulkan minat dan pengetahuan peneliti.
- Merupakan salah satu syarat untuk lulus program D III keperawatan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.2
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Efektivitas Penanganan Dalam Nyeri Dismenorea Non Farmakologis Pada Remaja Putri
iklan2

Sabtu, 24 September 2011

iklan0
Dampak Perilaku Remaja Terhadap Penggunaan Minuman Keras

iklan1

ABSTRAK

Miras merupakan singkatan dari minuman keras, dimana minuman keras adalah jenis minuman yang mengandung alkohol, tidak peduli berapa kadar alkohol didalamnya, pemakaian miras dapat menimbulkan gangguan organik (GMO) yaitu gangguan fungsi berpikir, perasaan dan perilaku. Miras dikonsumsi dari berbagai umur dan yang mayoritas adalah kalangan remaja, dimana mereka tidak mengetahui dampak atau akibat yang akan terjadi dalam kehidupan mereka kemudian hari. Dan telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dampak prilaku remaja terhadap penggunaan minuman keras pada mahasiswa Kabupaten pada hari Jumat 16 Juli 2011. penelitian ini bersifat deskriptif dengan populasi penelitian ini adalah keseluruhan mahasiswa Kabupaten dengan jumlah mahasiswa 150 orang, dengan sampel keseluruhan mahasiswa yang berjumlah 55 responden. Dengan memberikan kuesioner kepada 85 responden Kabupaten untuk mengetahui dampak prilaku remaja terhadap penggunaan minuman keras. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa yang pernah meminum minuman yang keras sebanyak 55 responden (64,7%) dan berdasarkan kesehatan fisik yang tidak mengalami gangguan kesehatan fisik sebanyak 33 responden (60%) dari 55 responden, dan berdasarkan prestasi belajar yang tidak mengalami gangguan prestasi belajar sebanyak 31 responden (56,4%) dari 55 responden, dan berdasarkan keamanan dan ketertiban asrama sebanyak 39 responden (70,9%) dari 55 responden. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan kepada Direktris , Dosen-Dosen beserta Staff dan ibu / bapak asrama Kabupaten diharapkan untuk memberikan arahaan dan pengawasan terhadap mahasiswa Kabupaten

Kata Kunci : Dampak Prilaku Remaja Terhadap Penggunaan Minuman Keras
Dafar Pustaka : 12 Referensi (2004 – 2011).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Modernisasi yang dikatakan sebagai tonggak awal kemajuan zaman telah memberikan pengaruh dan dampak kemanusiaan yang luar biasa pada abad kedua puluh ini. Modernisasi yang membawa dampak perubahan yang fisik mental dalam berbagai bidang dan nilai kehidupan, yang tentunya akan memberi konsekuensi dan pengaruh bagi manusia sebagai komponen dalam kehidupan. Pada dasarnya modernisasi merupakan kemajuan teknologi yang mengakibatkan perubahan yang cukup kompleks, bahwasanya kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan moderisasi merupakan faktor sosial ekonomi baru yang juga akan memberikan dampak pengaruh dalam bidang kesehatan. ( Hawari 2003)
Bahwa faktor sosial ekonomi yang ada di dalam masyarakat merupakan pemicu bagi individu untuk memunculkan perilaku dan pengalaman yang tidak sehat diantaranya adalah angka kelahiran rendah, ketidak stabilan dalam rumah tangga, kekerasan anak, orang tua perokok, orang tua peminum, askes kesehatan yang sulit, polusi lingkungan . perokok berat, peminum berat, penyalahgunaan minuman keras dan narkoba oleh remaja. (Putra 2007)
Salah satu dampak modernisasi dari faktor sosial ekonomi baru ini cukup nyata di tengah masyarakat kita adalah penyalahgunaan minuman keras pada kalangan remaja. Bila keadaan ini dibiasakan maka bencana yang akan terjadi, remaja yang telah keracunan alkohol atau minuman keras adalah remaja yang tidak efektif bagi kehidupan sosialnya. Minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol yang apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dapat merugikan dan membahayakan jasmani, rohani maupun bagi kepentingan perilaku dan cara berfikir kejiwaan sehingga akibat lebih lanjut akan mempengaruhi kehidupan keluarga dan hubungan dengan masyarakat sekitarnya. (Wresniwiro 1996)
Dan masalah-masalah yang saat ini berkembang dikalangan remaja diantaranya penyebaran narkoba, penyebaran penyakit kelamin, kelamin dini serta ancaman HIV/AIDS. Yang juga mencemaskan 90% remaja sudah begitu akrab dengan rokok yang merupakan pintu masuk bagi narkoba dan MIRAS “ Minuman Keras” berdasarkan dari dinas kesehatan kota bogor penggunaan narkoba suntikan diperkirakan sudah mencapai 1.460 orang. Pada tahun 2005 diketahui telah mengatasi dan menyelesaikan secara hukum 149 kasus penyalah gunaan narkoba, 97 kasus narkotika dan 52 kasus psikotropika. Dan tahun 2007 tercatat 911 orang penggunaan narkoba yang terkontaminasi HIV/AIDS dan korban yang meninggal mencapai 24 orang. (Apriansyah 2008)
Yang mengemukakan bahwa sebagian besar korban penyalah gunaan narkotika dan minuman keras adalah remaja terbagi dalam golongan umur 14-16 tahun (47,7%), golongan umur 17-20 tahun (51,3) dan golongan umur 21-24 tahun (31%). Dan berdasarkan hasil survey dinas penelitian dan pengembangan (DISLITBANG) polri memperlihatkan bahwa pemakaian narkotika dan minuman keras di Indonesia terbanyak dari golongan pelajar baik SLTP,SLTA maupun mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70% dan sedangkan yang lulusan SD hanya 30%. (Purno mowardani & Koentjoro,2000)
Dan alasan untuk memakai minuman keras adalah kenikamatan, tekanan kelompok pergaulan, rasa ingin tahu, jenuh/bosan, untuk mengatasi masalah tertentu, paksaan, ikut mode, prestise/gensi dan kesenian/inspirasi. Sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui Dampak Prilaku Remaja Terhadap Penggunaan Minuman Keras Pada Mahasiswa .


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan masalah “Bagaimana Dampak Perilaku Remaja Terhadap Penggunaan Minuman Keras Pada Mahasiswa Kabupaten tahun 2011”.


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
“Untuk mengetahui dampak perilaku remaja terhadap penggunaan minuman keras pada mahasiswa Kabupaten Tahun 2011”.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Ingin mengetahui dan mengkaji dampak perilaku remaja terhadap penggunan minuman keras pada mahasiswa Kabupaten Tahun 2011 terhadap kesehatan fisik
2. Ingin mengetahui dan mengkaji dampak perilaku remaja terhadap penggunaan minuman keras pada mahasiswa Kabupaten Tahun 2011 terhadap prestasi belajar
3. Ingin mengetahui dan mengkaji dampak perilaku remaja terhadap penggunaan minuman keras pada mahasiswa Kabupaten Tahun 2011 terhadap ketertiban dan keamanan.


1.4 . Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan tentang dampak perilaku penggunaan minuman keras.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat melengkapi kepustakaan yang ada di Kabupaten dan bahan masukan bagi mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan dan mutu pelayanan kesehatan.
1.4.3. Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan masukan dan mengkaji hal lain yang sehubungan dengan penggunaan minuman keras di masa yang akan datang.


Download KTI Skripsi Kebidanan, Keperawatan dan Kedokteran No.1
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Dampak Perilaku Remaja Terhadap Penggunaan Minuman Keras
iklan2